Old Browser Detected

Sorry, our site is not supporting your browser.
Please upgrade your browser or use other modern browsers.

PERTEMUAN ILMIAH ARKEOLOGI XV DAN KONGRES IAAI TAHUN 2020
KESATUAN DAN KERAGAMAN

SUMBANGAN ARKEOLOGI BAGI KEUTUHAN DAN KEMAJUAN INDONESIA


I. PERTEMUAN ILMIAH ARKEOLOGI XV TAHUN 2020

A. Pengantar

Bangsa Indonesia saat ini sedang memasuki gejolak perubahan yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Perubahan ini dapat mengarah pada perbaikan mutu hidup bila kita tepat menyikapinya. Namun sebaliknya, dapat membawa malapetaka bila salah dalam menanganinya. Pertanyaannya adalah ”Bagaimana sebaiknya para ahli arkeologi berperan dalam upaya mengatasi masalah kehidupan berbangsa.”

Dalam pertemuan IAAI di tingkat Komda maupun di tingkat pusat yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan kegiatan PIA XV menyepakati pilihan permasalahan utama adalah kesatuan dan keragaman (unity and diversity). Tema ini dipilih karena dianggap sesuasi dengan misi arkeologi dan harapan masyarakat yang dibebankan kepada profesi arkeologi. Itulah sebabnya tema Kesatuan dan Keragaman dipilih untuk dijadikan tema PIA XV dengan pertimbangan:

  1. Dinamika politik nasional telah menimbulkan gejolak yang mengarah pada demokratisasi dalam berbagai bidang. Gejolak ini meningkatkan semangat otonomi daerah, berkembangnya kebebasan berekspresi, dan penghargaan terhadap berbagai aspek kelokalan. Kecenderungan ini berkembang sejajar dengan semakin lemahnya kekuatan pengendali untuk menyatukan kembali. Instrumen konvensional (ekonomi dan militer) dianggap tidak efektif untuk menyatukan, dan pendekatan budaya dianggap dapat menjadi solusi alternatif yang menjanjikan.
  2. Bangsa Indonesia sedang berusaha untuk meningkatkan peringkatnya dari negara berkembang dengan pendapatan rendah ke menengah. Dengan demikian hampir semua sumber daya yang dimiliki diarahkan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan, tidak terkecuali sumber daya arkeologi.
  3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di seluruh dunia kini dijadikan instrumen untuk memenangkan persaingan global. Bagi negara yang mampu menguasainya maka potensi untuk menjadi bangsa yang unggul akan mudah dicapai. Oleh karena itu semua profesi harus mampu memanfaatkannya secara maksimal, termasuk profesi arkeologi.

B. Tujuan dan Target

Melalui Pertemuan Ilmiah Arkeologi XV, para ahli arkeologi diharapkan dapat menyampaikan hasil kerja profesionalnya untuk disumbangkan kepada negara dan masyarakat Indonesia dalam mengatasi masalah kebangsaan. Adapun target pemikiran yang ingin dicapai adalah informasi terkini yang memuat:

  1. Hasil-hasil penelitian yang berdampak besar terhadap salah satu atau kombinasi dari beberapa aspek berikut:
      a. Perkembangan teori arkeologi dan kebudayaan
      b. Proses pembentukan identitas kebangsaan
      c. Kontribusi Indonesia kepada dunia
      d. Kerja sama lintas disiplin ilmu dan
      e. Pemanfaatan teknologi mutakhir
  2. Hasil-hasil riset dasar dan terapan yang dianggap penting/berkualitas.
  3. Kebijakan-kebijakan riset dan pelestarian dalam menghadapi tantangan masa depan (misalnya respon terhadap visi pembangunan, dampak pariwisata, gerakan-gerakan fundamentalisme agama, revitalisasi kepercayaan tradisional, revolusi industri 4.0).

C. Topik Bahasan

Mengingat minat dan kepakaran para peserta beraneka ragam, maka tema Kesatuan dan Keragaman dibagi ke dalam enam topik bahasan, yaitu (1) Migrasi dan diaspora; (2) Budaya maritim; (3) Jati diri/identitas; (4) Cagar budaya dan pembangunan; (5) Cagar budaya dan seni kreatif; dan (6) Kebijakan riset arkeologi dan pelestarian cagar budaya.

1. Migrasi dan diaspora:

    Wilayah Indonesia bukan hanya menjadi pusat pertemuan bangsa-bangsa yang membuat nenek moyang kita sangat akrab dengan kehadiran bangsa-bangsa lain. Namun, bangsa Indonesia juga memiliki dorongan kuat untuk merasakan pengalaman di luar wilayahnya sendiri. Migrasi kelompok etnik di luar tempat asalnya sudah sangat dikenal sejak zaman dulu. Sumber sejarah dan arkeologi perlu ditampilkan untuk menyokong bukti-bukti tentang kahadiran bangsa Nusantara di tempat kehidupan yang baru, baik untuk tinggal dalam waktu pendek maupun dalam waktu lama.

2. Budaya maritim:

    Kemampuan nenek moyang dalam menguasai lingkungan perairan, baik di daerah aliran sungai-sungai besar, maupun di wilayah pesisir dan di laut lepas telah banyak dibahas di berbagai forum. Meskipun demikian tema ini masih tetap relevan karena bukti penguasaan terhadap lingkungan maritim masih terus bermunculan, baik melalui data arkeologi, sejarah, etnografi, maupun tradisi lisan. Penting untuk diberi perhatian khusus tentang keanakeragaman maupun kesamaan dalam praktik kehidupan maritim yang dipengaruhi oleh karakter lingkungannya. Upaya untuk menampilkan temuan-temuan baru diharapkan dapat memperkaya pengetahuan kita tentang bagaimana nenek moyang kita mempraktikan kehidupan maritim di lingkungan masing-masing, baik yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi, perdagangan, politik, militer, teknologi pembuatan kapal, dan penguasaan ilmu pelayaran.

3. Jatidiri/identitas.

    Karakter bangsa Indonesia dipengaruhi oleh pengalaman sejarahnya, baik sebagai bangsa yang hidup di tengah perjumpaan bangsa-bangsa maupun sebagai bangsa yang memiliki sifat menjelajah untuk mengetahui berbagai hal yang baru. Pengalaman seperti ini mendorong bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kreatif, mudah beradaptasi dan toleran, terutama dalam upayanya mengatasi berbagai permasalahan. Rumusan tentang makna jati diri perlu dipertajam dengan memanfaatkan berbagai sudut pandang serta memberikan penilaian tentang relevansinya bagi kehidupan masa kini, demikian pula bukti-bukti perlu ditunjukan. Perlu pula disadari bahwa pemahaman tentang jati diri kini juga sedang dipertanyakan. Di antaranya muncul bentuk penafsiran baru atas peninggalan arkeologi, penyajian koleksi museum, dan monumen-monumen di ruang publik yang berpotensi menimbulkan kebingungan masyarakat umum dan memicu konflik sosial.

4. Cagar Budaya dan Pembangunan (termasuk pengembangan pariwisata)

    Perhatian terhadap manajemen sumber daya budaya atau pelestarian cagar budaya merupakan jawaban arkeologi atas tuntutan kehidupan masa kini dan tanggung jawab keilmuannya ahli arkeologi kepada masyarakat. Tantangan paling besar yang dihadapi adalah bagaimana upaya pelestarian berhadapan dengan kegiatan pembangunan, khususnya pembangunan fisik dan pengembangan pariwisata. Pembangunan fisik mungkin sekali dilandasi oleh asumsi bahwa cagar budaya tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat banyak dibandingkan dengan pembangunan industri atau pembangunan sarana umum. Sementara itu, pariwisata mengandung potensi untuk melakukan pemanfaatan secara berlebihan yang dapat merugikan upaya-upaya pelestarian. Kasus-kasus konflik penggusuran cagar budaya dalam pembangunan dan konflik pemanfaatan cagar budaya untuk pengembangan pariwisata telah diketahui secara sepintas melalui media sosial, namun kajian secara sistematis dan lebih mendalam belum banyak dilaporkan.

5. Cagar budaya dan seni kreatif berbasis cagar budaya

    Cagar budaya memiliki potensi tidak hanya untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga untuk dikembangkan sebagai sumber penciptaan seni kreatif, baik dalam bentuk kerajinan tangan, komik, film, novel, games, desain dan lain-lain. Beberapa produk seni kreatif telah muncul, tetapi kajian sistematis tentang konsep penciptaan dan potensinya untuk meningkatkan apresiasi terhadap keanekaragaman budaya masih belum banyak ditulis.

6. Kebijakan riset arkeologi dan pelestarian cagar budaya

    Kegiatan riset dan upaya pelestarian cagar budaya tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah di bidang penelitian, pelestarian, dan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Kebijakan tersebut lazimnya dibuat unuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan, baik dalam menghadapi kompetisi antar negara maupun dalam menyikapi perkembangan teknologi. Dalam kesempatan ini kiranya para peserta perlu diberikan pemahaman tentang arah kebijakan di bidang penelitian, pelestarian dan peningkatan kualitas sumber daya manusianya sehingga semuanya dapat mengantisipasi apa yang harus dilakukan di bidangnya masing-masing.

D. Peserta

Peserta PIA XV terdiri atas peserta dalam negeri dan luar negeri.

  1. Peserta dalam negeri
    1. Para arkeolog dan pelestari cagar budaya yang menjadi anggota IAAI
    2. Pakar-pakar yang bekerja sama dalam riset-riset arkeologi (bidang genetika dan geologi)
    3. Pakar disiplin ilmu lain yang relevan untuk tema ini (bidang linguistik)
    4. Para ahli yang terhimpun dalam asosiasi profesi (Ikatan Arsitek Indonesia, Asosiasi Antropologi Indonesia, dan Masyarakat Sejarawan Indonesia)
  2. Peserta luar negeri
      a. Asia Tenggara
      b. Asia Timur
      c. Australia
      d. Eopa

E. Sidang Pleno dan Sidang Komisi

    1.Sidang Pleno

      a. Pembukaan

        • Laporan Ketua Pelaksana
        • Sambutan Ketua IAAI
        • Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan /Dirjen Kebudayaan

      b. Talkshow I: Keragaman dan Kebangsaan
      c. Talkshow II: Keragaman interpretasi untuk arkeologi

    2. Sidang-sidang Komisi

      Sesuai dengan pembagian topik bahasan berikut:
      • Migrasi dan diaspora
      • Budaya maritim
      • Jatidiri/Identitas
      • Pelestarian cagar budaya dan pembangunan
      • Cagar budaya dan seni kreatif
      • Kebijakan riset dan pelestarian cagar budaya

Sidang-sidang komisi dikhususkan untuk para arkeolog yang memerlukan kesempatan pengembangan dirinya di tingkat nasional. Makalah yang dipresentasikan dibatasi jumlahnya melalui sistem seleksi “first come first serve” namun demikian tidak mengabaikan aspek kualitasnya dan relevansinya dengan tema yang telah ditentukan. Makalah yang dipresentasikan akan dicetak secara elektronik dalam bentuk prosiding yang diterbitkan oleh IAAI dan dimuat di web iaai.or.id. Peserta yang tidak mempresentasikan hasil penelitiannya dapat memamerkannya dalam bentuk poster dengan format yang akan ditentukan kemudian.

F. Pameran

Dalam acara ini diselenggarakan pula sebuah pameran yang mengetengahkan hasil penelitian dan temuan terbaru arkeologi di Indonesia dalam bentuk visual.

.

II. KONGRES PERKUMPULAN AHLI ARKEOLOGI INDONESIA (IAAI) XV TAHUN 2020

A. Pengantar

Kongres IAAI merupakan acara wajib sesuai AD/ART Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia. Kongres dilaksanakan setiap 3 (tiga) tahun dengan acara yang telah ditetapkan:

  1. Laporan pertanggung jawaban program Pengurus IAAI Pusat Periode 2017—2020,
  2. Laporan pertanggung jawaban Komda seluruh Indonesia periode 2017—2020,
  3. Diskusi program-program IAAI untuk disampaikan kepada pengurus baru periode 2020—2023 dan keputusan Kongres XV,
  4. Pemilihan Ketua Pengurus IAAI Pusat periode 2020—2023,
  5. Pemilihan Ketua Komda IAAI periode 2020—2023, dan
  6. Serah terima secara simbolik dari Ketua Pengurus IAAI Pusat periode 2017—2020 kepada Ketua Pengurus IAAI Pusat periode 2020—2023 dan Ketua IAAI Komda periode 2017— 2020 kepada Ketua IAAI Komda periode 2020—2023

B. Peserta Kongres IAAI XV

Acara Kongres IAAI hanya dapat diikuti oleh anggota IAAI. Jumlah peserta yang diharapkan hadir minimal dua pertiga dari jumlah anggota, yaitu sekitar 500 orang.

.

III. PELAKSANAAN

1. Waktu dan Tempat PIA dan Kongres IAAI XV

    PIA dan Kongres IAAI XV akan diselenggarakan pada tanggal 22-25 November 2020 di Yogyakarta (tempat acara akan ditentukan kemudian).

2. Pendaftaran

    Pendaftaran sebagai pemakalah/peserta dan penjadwalan pendaftaran akan ditentukan kemudian.

.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

.


Alamat Sekretariat Panitia Kongres IAAI dan PIA XI Tahun 2020
Cemara 6 Museum & Gallery
Jl. HOS Cokroaminoto No 9-11 Menteng, Jakarta Pusat
Telp./Faks.: (021) 3911823
Email: iaai_2008@yahoo.com web: iaai.or.id

.

.


PANITIA PELAKSANA INTI


Pengarah:
Dirjen Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid
Dewan Pertimbangan IAAI
Majelis Kode Etik IAAI

Penanggung jawab:
Ketua IAAI, Dr. W. Djuwita Ramelan
Ketua Pelaksana:
Dr. Titi Surti Nastiti
Wakil Ketua Pelaksana:
Dr. Inda Citraninda Noerhadi
Ketua Panitia Daerah:
Ketua Komda DIY & Jateng: Drs Wahyu Indrasana