Old Browser Detected

Sorry, our site is not supporting your browser.
Please upgrade your browser or use other modern browsers.

Sejarah Lembaga Purbakala & Profesi Arkeologi

Sejarah Lembaga Purbakala

REKONSTRUKSI KEPURBAKALAAN  INDONESIA SEBAGAI SUMBER IDENTITAS BANGSA

Ringkasan
Salah satu sumber utama identitas   bangsa Indonesia adalah warisan dari masa lampau, baik berupa warisan genetis maupun warisan budaya. Warisan masa lampau inilah yang hingga kini masih jelas terekam dalam wujud fisik dan budaya bangsa Indonesia. Pengetahuan tentang masa lampau seperti apa yang  kita peroleh dari nenek moyang dapat kita lacak dari hasil riset arkelogi. Berdasarkan hasil riset yang menjangkau periode tidak kurang dari 1,5 juta tahun dapat diperoleh gambaran secara garis besar bagaimana lingkungan alam dan pengalaman sejarah memberi warna khas terhadap corak kebudayaan Indonesia saat ini. Sajian ini hendak menunjukkan bukti bahwa sejak awal kehidupannya, nenek moyang bangsa Indonesia telah mengembangkan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan alam dan mengembangkan kemampuan kreatif dalam menghadapi berbagai pengaruh budaya dari luar. Faktor lingkungan fisik dan pengalaman sejarah itulah yang tampaknya menjadikan bangsa Indonesia memiliki kekhasan, yaitu mudah beradaptasi dengan lingkungan alam, kreatif dalam mengatasi masalah dan toleran dalam menyikapi perbedaan. Pengalaman masa lampau itulah yang dapat kita manfaatkan bagi pembelajaran masa kini dan masa depan.

Gambaran prosesnya dibagi ke dalam empat bagian:

  1. Gambaran Lingkungan Fisik Nusantara
  2. Periode Prasejarah/Awal Pendudukan Kepulauan Nusantara
  3. Periode Hindu Buddha dan Awal Kedatangan Islam
  4. Periode Islam dan Kedatangan Pedagang Eropa
  5. Periode Hindia Belanda hingga Awal Kemerdekaan
  6. Periode Pembangunan

 

1. Gambaran lingkungan Fisik Nusantara

Kawasan Nusantara sebagaimana tampak saat ini baru terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu. Pada masa sebelumnya itu sebagian pulau di sebelah barat menyatu dengan wilayah Asia (Paparan Sunda) dan di sebelah timur menyatu dengan Australia (Paparan Sahul) dan di antara keduanya terdapat beberapa pulau yang diapit oleh laut yang sangat dalam (garis Wallacea). Sejarah geologi dan kondisi iklim di wilayah Nusantara mempengaruhi karakter fisik geografi serta flora dan faunanya. Demikian pula gunung-gunung api yang menjalar di sepanjang wilayah Indonesia menjadikan wilayah Indonesia rentan bencana, tetapi juga memiliki tingkat kesuburan yang istimewa di beberapa kawasan gunung api muda, sedangkan kawasan lain  lebih rendah tingat kesuburannya. Perbedaan karakter wilayah ini pada gilirannya akan mempengaruhi corak kehidupan manusia dalam menyiasati tantangan lingkungan yang berbeda-beda.

 

2. Periode Prasejarah/Awal Pendudukan Kepulauan Nusantara (1,5 jt yll – 500 M.)

Penduduk pertama yang masuk ke kepulauan dikenal sebagai homo erectus yang telah mengenal teknologi sederhana untuk menyambung hidupnya. Alat-alat batu yang masih sederhana itu tidak mengalami banyak perubahan sampai jangka waktu yang lama. Bahkan ketika muncul jenis homo erectus yang lebih maju dalam  segi kemampuan berfikir dan keterampilannya, juga tidak menghasilkan perubahan signifikan pada alat-alat yang digunakan hingga kepunahannya sekitar 200.000-100.000 tahun lalu. Hal ini secara jelas menjadi indikator bahwa mereka memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan secara luar biasa karena mereka harus mengatasi tantangan hidup dalam memperebutkan sumberdaya pangan dengan fauna pemangsa, dan harus mampu mengatasi ancaman bencana alam yang sering terjadi dalam kawasan  geologis yang tidak stabil. Dalam perjalanan jauh dari Afrika, akhirnya sampai lah mahluk jenis baru, yaitu homo sapien dari jenis Melanesoid, di wilayah Nusantara sekitar 80.000-50.000 tahun lalu.

Dalam penjelajahannya ke wilayah Indonesia Timur (Flores) mahluk ini mampu menyeberangi laut-dalam dengan menggunakan perahu rakit yang mungkin terbuat dari rangkaian bambu yang tersedia melimpah di Nusantara. Pada periode kemudian muncul pendatang baru secara bergelombang dari daratan Asia yang dikenal dengan sebagai ras Mongoloid, kemudian  disusul lagi dengan hadirnya ras yang dikenal sebagai penutur bahasa Austronesia sekitar 4.000 tahun yll. Ras penutur bahasa Austronesia inilah yang kini menjadi penghuni mayoritas kawasan Nusantara, sedangkan ras Mongoloid masih tetap hadir di wilayah Papua dan sebagian wilayah di sebelah baratnya. Meskipun terjadi persaingan hegemoni di antara ras-ras tersebut, namun terdapat juga bukti bahwa di antara mereka juga pernah hidup berdampingan dan mungkin sekali saling kawin-mawin sebagaimana dibuktikan oleh hadirnya dua jenis mahluk yang berbeda di salah satu lokasi yang sama, yaitu di Gua Harimau Sumatra Selatan.

Capaian yang paling mengagumkan dari bangsa penutur bahasa Austronesia adalah menciptakan perahu lesung dan perahu bercadik untuk menyiasati lingkungan hidup di wilayah perairan nusantara yang sangat luas. Rumah panggung diciptakan untuk menghindari serangan hewan buas dan memelihara anjing untuk membantu aktivitas perburuan.   Di kawasan batuan karst mereka tinggal di gua-gua dan menciptakan karya seni indah yang menggambarkan aktifitas sehari-hari dan ritual mereka. Di wilayah yang subur mengembangkan pertanian ladang atau tadah hujan serta pembuatan gerabah. Kelompok masyarakat lain yang tinggal diperbukitan mengembangkan teknologi logam serta membangun monumen-monumen batu besar (megalitik) sebagai sarana untuk melakukan pemujaan kepada nenek moyang, baik dalam bentuk kubur-kubur batu, maupun bangunan punden berundak (Gunung Padang, Lebak Sibedug dll). Sementara yang tinggal di wilayah pesisir mengembangkan teknologi pembuatan kapal sebagai sarana untuk melakukan aktivitas perdagangan dengan bagsa-bangsa lain.

 

3. Periode Hindu-Buddha dan Awal Masuknya Islam (500 M s/d 1500).

Kontak awal bangsa Indonesia dengan bangsa asing dengan tingkat perkembangan yang lebih kompleks terjadi sekitar abad ke-4 dan 5 Masehi sebagaimana tercermin dari temuan berupa Yupa bercorak Hindu di Kutai, Kalimantan Timur dan arca Buddha di Sembaga, Sulawesi Tengah. Di bagian lain di wilayah Kalimantan juga berkembang agama Hindu dan Buddha pada masa-masa berikutnya. Di kawasan ini Buddhisme dan Hinduisme mungkin menjadi landasan kepercayaan penguasa lokal yang mempraktekkan sistem pemerintahan lokal yang relatif kecil, tetapi cukup efektif untuk melakukan hubungan dengan pusat-pusat pemerintahan asing yang jauh (wilayah Asia Selatan).

Sementara itu, di Jawa dan Sumatera masuknya agama Hindu dan Buddha dibarengi dengan perkembangan sistem pemerintahan yang kompleks. Namun demikian masing-masing mengembangkan sistem adaptasi yang berbeda. Sriwijaya yang berkembang di tepian sungai besar dan berdekatan dengan selat Malaka yang ramai, mengembangkan kekuatan maritim dan tradisi dagang yang kuat. Sedangkan di Jawa, di wilayah pedalaman yang subur, kerajaan Mataram mengembangkan kekuatan agraris, dan di wilayah pantai dikembangkan teknologi kapal. Bukti berkembangnya tradisi agraris dan kemampuan membangun kekuatan laut tercermin dalam sumber-sumber prasasti, catatan musafir Cina dan gambar-gambar persawahan dan kapal-kapal dagang di relief dinding candi Borobudur, yang semuanya berasal dari sekitar abad ke-8 dan ke-9. Temuan sisa kapal kuno di wilayah Rembang juga menunjukkan bukti berkembangnya tradisi maritim pada masa Mataram Kuno ini.

Berbeda dengan Sriwijaya, kerajaan Mataram mengembangkan tradisi pembuatan bangunan-bangunan monumental di bagian tengah pulau Jawa yang subur, baik Hindu maupun Buddha. Di pusat wilayah kerajaan Mataram Kuno, bangunan peribadatan dari kedua agama yang berselisih di negeri asalnya di India, ternyata di dapat berdiri saling berdekatan. Di sekitar candi Borobudur (Buddha) terdapat arca-arca Hindu yang sangat indah di antara reruntuhan bangunan yang pernah menaunginya. Di wilayah Prambanan terdapat bangunan monumental Hindu/Saiwa (candi Lorojonggrang) bersanding dengan monumen-monumen besar agama Buddha, yaitu candi Sewu dan Plaosan Lor. Hadirnya simbol-simbol dua agama yang berbeda di wilayah yang berdekatan sesungguhnya tidak hanya ditemukan di Jawa, tetapi juga di wilayah lain di luar Jawa, baik Sumatera maupun Kalimantan. Di Nusantara lah agama Hindu/Saiwa yang saling berseberangan di tanah asalnya menjadi bersatu di bumi Indonesia. Meskipun demikian sistem kepercayaan asli, yaitu pemujaan kepada arwah nenek moyang, tidak pernah sungguh-sungguh ditinggalkan.

Berbeda dengan di tanah asalnya, India, candi-candi Hindu maupun Buddha di Indonesia tidak pernah merupakan tempat makam jasad orang-orang suci, tetapi merupakan tempat pemujaan leluhur. Arsitektur candi Borobudur, misalnya, menggambarkan kombinasi bangunan teras berundak di bagian bawah dan stupa di bagian mahkotanya, yang masing-masing mewakili simbol kepercayaan kepada arwah leluhur dan simbol Buddhisme. Meskipun demikian konstruksi utama adalah bangunan punden berundak. Tradisi arsitektur punden berundak terus hadir lagi pada akhir masa Hindu Buddha yang berpusat di Jawa Timur, sebagaimana tercermin dalam arsitektur candi Jago dan bangunan-bangunan keagamaan di Gunung Lawu dan Gunung Penanggungan. Sikap toleransi antara agama Hindu dan Buddha bahkan lebih nyata lagi sebagaimana tampak pada candi Jago. Candi ini jelas sekali merupakan tempat ibadah Buddha berdasarkan seluruh susunan arcanya, namun di dindingnya dipahatkan sejumlah relief ceritera yang berasal dari tradisi Hindu/Saiwa. Pada masa majapahit dikenal semboyan bineka tunggal ika untuk menyatakan bahwa meskipun agama Hindu dan Buddha berbeda dalam cara-caranya beribadat namun tujuan akhir yang ingin dicapai sama. Tradisi semacam ini dilestarikan di Bali ketika kerajaan Hindu Buddha Majapahit runtuh sekitar abad ke-15.

Kontak dengan pendatang Islam secara sporadis telah lama terjadi sejak masa sebelumnya. Berita Cina dari dinasti Tang pernah menyebutkan kehadiran pedagang Arab di Nusantara. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kapal dagang Nusantara yang membawa komoditi berharga dari Timur Tengah dan China pada abad ke-10 memuat penumpang muslim dan Buddha sebagaimana tercermin dalam muatan kapal karam di Cirebon dalam bentuk cetakan batu dengan goresan ayat-ayat al Quran bersama patung-patung perunggu yang digunakan untuk pemujaan agama Buddha.

Pada Masa Majapahit kehidupan bersama dengan komunitas agama Islam juga berlangsung lama, sebagaimana ditandai oleh hadirnya nisan-nisan kubur bertulisan Arab dan ayat al Quran di pusat kota Troloyo, bekas kota Majapahit. Di wilayah pesisir Jawa Timur, pusat Islam tetap diberi kebebasan untuk berkembang sebagaimana ditandai oleh kompleks makam Malik Ibrahim (1419) yang indah di Gresik. Sementara itu kerajaan Islam Samudera Pasai yang menjadi bagian dari kedaulatan Majapahit tetap mendapat otonominya dalam menerapkan kebijakan perdagangan dan politik luar negerinya. Demikian pula, kehidupan bersama orang-orang asing tampaknya juga sudah lazim terjadi di ibukota Majapahit. Temuan arca-arca terakota yang menggambarkan wujud orang-orang asing di Trowulan dapat menjadi petunjuk mengenai fakta itu.

Berbeda dengan kerajaan Mataram di Jawa Tengah, kerajaan-kerajaan di Jawa Timur mengembangkan sistem pertanian yang berbeda dengan Jawa Tengah karena iklim Jawa Timur lebih kering. Oleh karena itu hambatan iklim diatasi dengan membangun sistem bangunan air dan waduk-waduk sebagai tandon air untuk mengatasi kekeringan di musim kemarau. Hanya di Jawa Timur kita dapat melihat adanya sisa-sisa bangunan air yang cukup besar, misalnya kolam Segaran di Trowulan. Dalam kehidupan ekonomi Majapahit memanfaatkan alat tukar Cina yang tampaknya berlaku di seluruh pulau Jawa. Berkurangnya cadangan mata uang ini karena adanya pembatasan ekspor mata uang Cina ditanggapi dengan membuat mata uang yang sama dalam bentuk tiruan.

 

4. Periode Islam dan  Kedatangan Pedagang Eropa (1500 s/d 1800)

Pergantian dominasi ideologi agama dari Hindu-Buddha ke Islam di wilayah Nusantara tidak ditandai oleh konflik kekerasan sebagaimana terjadi di wilayah Timur Tengah dan Eropa. Warisan nilai budaya sebelumnya digunakan untuk mengajak masyarakat berganti keyakinannya. Di Jawa, Masjid-masjid dibangun dengan tetap memelihara ciri-ciri arsitektur candi sebagaimana tampak pada masjid Menara Kudus, kompleks makam Islam (para wali dan tokoh Islam lain) dan Istana (di Banten dan Cirebon) dibangun dengan meneruskan elemen-elemen tradisi arsitektur Hindu-Buddha. Unsur-unsur baru yang bersifat estetik ditambahkan, misalnya dengan menempelkan hiasan keramik Cina dan Eropa. Masuknya bangsa Portugis yang membawa Katolik diterima dengan modifikasi lokal sebagaimana terjadi di wilayah Flores. Di wilayah-wilayah Indonesia lain yang tidak mengalami periode pengaruh Hindu, Buddha atau Islam, keyakinan-keyakinan lama hidup berdampingan dengan agama Nasrani.

Hadirnya pedagang Eropa ditanggapi dengan aktivitas perdagangan maritim dan pembentukan jaringan kota-kota Islam di seluruh Nusantara. Peta-peta kuno dan gambar-gambar aktivitas kehidupan kota-kota Islam (misalnya Banten, Makassar, dan Aceh) menggambarkan semangat masyarakat Nusantara dalam aktivitas komersial yang berpusat pada perdagangan rempah-rempah, garam, dll. Perdagangan merupakan aktivitas yang penuh persaingan dan berbagai strategi untuk melakukan dominasi maupun penaklukan. Para pedagang mendirikan bangunan-bangunan pertahanan, demikian pula penguasa-penguasa lokal, terutama di pusat-pusat komoditas di wilayah Maluku (Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan), tetapi juga di wilayah strategis di Jawa (Banten, Mataram).

 

5. Periode Hindia Belanda Hingga Awal Kemerdekaan (1800 s/d 1950)

Pada masa ini, nilai-nilai barat masuk lebih mendalam pada kelompok-kelompok elit bangsa Indonesia baik dalam gaya hidup, cara berfikir dan simbol-simbol fisik yang mencerminkan selera mereka, misalnya dalam penggunaan bahasa, cara berpakaian, dan gaya bangunan rumah tinggal. Sebaliknya penguasa kolonial juga membangun gedung-gedung pemerintah, bangunan-bangunan pendidikan dengan mengambil unsur-unsur lokal. Bahkan bangunan peribadatan Islam dan Kristen pun didirikan dengan memadukan unsur-unsur lokal. Dalam pemikiran kebudayaan muncul polemic tentang bentuk kebudayaan Indonesia baru yang sebaiknya dikembangkan. Pilihannya mengadopsi sepenuhnya kebudayaan barat, mempertahankan dasar nilai-nilai timur, atau kombinasi keduanya. Dalam kenyataannya, bangsa Indonesia mengambil pilihan kombinasi barat dan timur. Sistem politik barat digunakan tetapi kita menempatkannya dalam sistem ideologi yang bersumber dari bumi Indonesia. Nilai-nilai Pancasila, lambang burung Garuda, dan semboyan Bineka Tunggal Ika sepenuhnya bersumber dari warisan masa lampau yang tumbuh di bumi Indonesia.

 

6. Periode Pembangunan (sesudah 1950)

Masa pemerintahan Soekarno ditandai oleh semangat untuk membangkitkan nasionalisme dan pembangunan mental yang dikenal dengan semboyan character building dan national building. Untuk mencapai maksud itu Soekarno memanfaatkan pencapaian-pencapaian tinggi pada masa lampau sebagai sumber inspirasinya. Awal pemugaran candi Borobudur dirintis, dan pemugaran candi Prambanan diresmikan. Di Jakarta Tugu Monumen Nasional di bangun dengan mengadopsi nilai-nilai masa lalu. Monumen ini tidak hanya mengambil bentuknya dari tradisi Hindu, tetapi narasi diorama yang ditampilkan juga menggambarkan bagaimana warisan masa lampau menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia masa kini.

Pada masa pembangunan, semakin disadari bahwa warisan budaya masa lampau juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sarana diplomasi budaya maupun sebagai aset ekonomi pariwisata. Sejumlah situs ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan beberapa lainnya ditetapkan sebagai warisan budaya dunia seperti Borobudur, Prambanan, Sangiran dan Jati Luwih. Kini pemerintah giat untuk mengajukan usulan baru agar sejumlah situs masuk dalam daftar sementara (tentative list) warisan budaya dunia. Warisan budaya kini telah meningkat potensinya, tidak hanya sebagai sarana untuk menguatkan jati diri bangsa tetapi juga meningkatkan potensi ekonomi bagi kesejahteran bangsa.