Old Browser Detected

Sorry, our site is not supporting your browser.
Please upgrade your browser or use other modern browsers.

Sejarah Pembentukan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

Sejarah Pembentukan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

http://iaai.kebudayaanindonesia.net/2014/05/pembentukan-ikatan-ahli-arkeologi-indonesia/
https://iaaipusat.wordpress.com/about/

Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) secara resmi dibentuk pada 4 Februari 1976 di Wisma Anggraini Cibulan, Bogor. Pembentukan tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Seminar Arkeologi yang dihadiri oleh para ahli arkeologi Indonesia. Dalam seminar tersebut, Ketua Panitia, R.P. Soejono mengemukakan perlunya pembentukan sebuah organisasi sebagai wadah untuk menghimpun para ahli arkeologi Indonesia. Gagasan tersebut sebetulnya sudah mengemuka pertama kali pada 1964, ketika para ahli arkeologi mengadakan ekskavasi gabungan di situs Gilimanuk.

Pada Maret 1965 gagasan tersebut diangkat lagi. Saat itu para ahli arkeologi tengah mengadakan pertemuan di Yogyakarta. Pada seminar di Cibulan, Bogor, gagasan itu kembali diingatkan oleh seorang peserta dengan merujuk pada usulan ketua panitia seminar. Dalam kesempatan itu, ketua seminar menanggapi usul dan akhirnya dicapai kesepakatan untuk membentuk kelompok kerja yang terdiri atas 11 orang ahli arkeologi dari berbagai lembaga. Mereka adalah:

  1. R.P. Soejono (Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional)
  2. Hasan Muarif Ambary (Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional)
  3. Teguh Asmar (Direktorat Sejarah dan Purbakala)
  4. Sukatno Tw. (Direktorat Sejarah dan Purbakala)
  5. Hadimulyono (Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Cabang IV)
  6. Ismanu Adisumarto (Kanwil Dep P dan K, Provinsi Jawa Tengah)
  7. Bambang Soemadio (Museum Pusat)
  8. Mundardjito (Universitas Indonesia)
  9. Harun Kadir (Universitas Hasanuddin)
  10. Rumbi Mulia (Dep Perhubungan, Sektor Pariwisata)
  11. Machfudi Mangkudilaga (Arsip Nasional)

Kelompok kerja ini bertugas untuk membahas prosedur pembentukan organisasi, nama, tujuan, tempat kedudukan, keanggotaan, dan kepengurusan yang kemudian dilaporkan dalam rapat pleno.

Dalam rapat pleno tersebut dilaporkan tentang pembentukan oraganisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) yang berkedudukan di Jakarta. Tujuan organisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia adalah menghimpun tenaga ahli arkeologi dan mereka yang aktif dalam profesi arkeologi, serta anggota luar biasa, yaitu mereka yang telah berjasa dalam usaha pengembangan arkeologi Indonesia. Dalam kesempatan itu dibentuk pula susunan pengurus pusat dan komisariat daerah. Sebagai ketua ditunjuk R.P. Soejono.

Dalam sidang pada 4 Februari 1976, R.P. Soejono sebagai Ketua Umum IAAI mengusulkan susunan pengrus sementara yang kemudian disetujui. Pada kepengurusan pertama itu dibentuk empat Komisariat Daerah (Komda), yaitu Komda Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi.

Pada tahun 2013, lahir Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang mengatur semua organisasi kemasyarakatan termasuk asosiasi profesi. Dalam upaya memperluas program kerja IAAI memperkuat legalitas IAAI, Kongres IAAI tahun 2017 memutuskan agar IAAI dijadikan badan hukum. Berdasarkan ketentuan peraturan perundangan tersebut, asosiasi profesi yang didaftarkan sebagai badan hukum tidak dapat menggunakan nama depan Ikatan tetapi memakai nama Perkumpulan. Perubahan nama menjadi Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia tidak akan mengubah identitas dan sejarah kelahiran IAAI. Nama IAAI tetap dapat dipertahankan sebagai sebutannya. Sejak tanggal 16 Mei 2018, secara resmi melalui akte notaris ditetapkan Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia dengan sebutan IAAI.


Visi dan Misi

Visi
Sebagai organisasi profesi yang memajukan kebudayaan khususnya di bidang arkeologi

Misi

  1. Pengembangan arkeologi Indonesia sebagai ilmu, memanggungkan kembali sejarah masa lampau, serta mengaktualisasikan nilai-nilai luhur dan pemanfaatannya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
  2. Pemasyarakatan arkeologi Indonesia melalui nilai-nilai budaya pada lingkup lokal, nasional, dan internasional.
  3. Pembelaan terhadap kepentingan arkeologi di Indonesia dengan menyuarakan pentingnya pelestarian warisan budaya dan nilai-nilai masa lampau sebagai aset sejarah dan budaya bangsa, mengecam segala kegiatan perusakan, penghilangan, dan pencurian cagar budaya, serta menumbuhkan apresiasi masyarakat untuk melestarikan cagar budaya.

Para Ketua Umum IAAI


Raden Pandji Soejono
Raden Pandji Soejono
(1976 -1989)

Hasan Muarif Ambary
Hasan Muarif Ambary
(1989 -1995)

Edi Sedyawati
Edi Sedyawati
(1995-2002)

Harry Truman Simanjuntak
Harry Truman Simanjuntak
(2002-2005)

Hari Untoro Dradjat
Hari Untoro Dradjat
(2005-2011)

Junus Satrio Atmodjo
Junus Satrio Atmodjo
(2011 – 2017)

Wiwin Djuwita Ramelan
Wiwin Djuwita Ramelan
(2017 – 2020)