PERKUMPULAN
AHLI ARKEOLOGI INDONESAI
(IAAI)

IAAI

IAAI adalah singkatan dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia yang merupakan organisasi penghimpun tenaga ahli arkeologi dan mereka yang aktif dalam profesi arkeologi, serta mereka yang telah berjasa dalam usaha pengembangan arkeologi Indonesia.

Berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0009264.AH.01.07 Tahun 2018, IAAI resmi menjadi badan hukum dengan nama Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia.

SEJARAH Lambang

Lambang IAAI dibuat oleh Ir. Sampoerno Samingoen, alumni ITB yang banyak melakukan pekerjaan sebagai pemugar bangunan kuno. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) I di Cibulan (1977), Sampoerno memperlihatkan tiga gambar. Namun yang kemudian dipilih adalah gambar lampu yang diabstraksikan menjadi bentuk ratna dengan lidah api berwarna merah disertai tulisan IAAI.

SEJARAH Organisasi

Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) secara resmi dibentuk pada 4 Februari 1976 di Wisma Anggraini Cibulan, Bogor. Pembentukan tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Seminar Arkeologi yang dihadiri oleh para ahli arkeologi Indonesia. Dalam seminar tersebut, Ketua Panitia, R.P. Soejono mengemukakan perlunya pembentukan sebuah organisasi sebagai wadah untuk menghimpun para ahli arkeologi Indonesia. Gagasan tersebut sebetulnya sudah mengemuka pertama kali pada 1964, ketika para ahli arkeologi mengadakan ekskavasi gabungan di situs Gilimanuk.

Pada Maret 1965 gagasan tersebut diangkat lagi. Saat itu para ahli arkeologi tengah mengadakan pertemuan di Yogyakarta. Pada seminar di Cibulan, Bogor, gagasan itu kembali diingatkan oleh seorang peserta dengan merujuk pada usulan ketua panitia seminar. Dalam kesempatan itu, ketua seminar menanggapi usul dan akhirnya dicapai kesepakatan untuk membentuk kelompok kerja yang terdiri atas 11 orang ahli arkeologi dari berbagai lembaga. Mereka adalah:

  1. R.P. Soejono (Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional)
  2. Hasan Muarif Ambary (Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional)
  3. Teguh Asmar (Direktorat Sejarah dan Purbakala)
  4. Sukatno Tw. (Direktorat Sejarah dan Purbakala)
  5. Hadimulyono (Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Cabang IV)
  6. Ismanu Adisumarto (Kanwil Dep P dan K, Provinsi Jawa Tengah)
  7. Bambang Soemadio (Museum Pusat)
  8. Mundardjito (Universitas Indonesia)
  9. Harun Kadir (Universitas Hasanuddin)
  10. Rumbi Mulia (Dep Perhubungan, Sektor Pariwisata)
  11. Machfudi Mangkudilaga (Arsip Nasional)

Kelompok kerja ini bertugas untuk membahas prosedur pembentukan organisasi, nama, tujuan, tempat kedudukan, keanggotaan, dan kepengurusan yang kemudian dilaporkan dalam rapat pleno.

Dalam rapat pleno tersebut dilaporkan tentang pembentukan oraganisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) yang berkedudukan di Jakarta. Tujuan organisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia adalah menghimpun tenaga ahli arkeologi dan mereka yang aktif dalam profesi arkeologi, serta anggota luar biasa, yaitu mereka yang telah berjasa dalam usaha pengembangan arkeologi Indonesia. Dalam kesempatan itu dibentuk pula susunan pengurus pusat dan komisariat daerah. Sebagai ketua ditunjuk R.P. Soejono.

Dalam sidang pada 4 Februari 1976, R.P. Soejono sebagai Ketua Umum IAAI mengusulkan susunan pengrus sementara yang kemudian disetujui. Pada kepengurusan pertama itu dibentuk empat Komisariat Daerah (Komda), yaitu Komda Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi 

(sumber: https://iaaipusat.wordpress.com/)

Visi

Sebagai organisasi profesi arkeologi yang memberikan pencerahan di bidang arkeologi dan kebudayaan pada umumnya.

Misi

  1. Pengembangan arkeologi Indonesia (pengembangan sebagai ilmu, memanggungkan kembali sejarah masa lampau, serta mengaktualisasikan nilai-nilai luhur dan pemanfaatannya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara)
  2. Pemasyarakatan arkeologi Indonesia (memasyarakatkan nilai-nilai budaya pada lingkup lokal, nasional, dan internasional)
  3. Pembelaan terhadap kepentingan arkeologi di Indonesia (menyuarakan pentingnya pelestarian tinggalan dan nilai-nilai masa  lampau sebagai aset sejarah dan budaya bangsa, mengecam segala kegiatan perusakan, penghilangan, dan pencurian cagar budaya serta menumbuhkan apresiasi masyarakat untuk melestarikan cagar budaya